Pengantar

Inisiasi Jannus P. Sihombing ‘Associate’

Hal yang juga kait-mengait tidak dapat diabaikan dari ‘tindak-tanduk’ Jannus P. Sihombing sebagai representasi dari partisipasi individu yang dominan, dimana menghadirkan kontribusi pemikiran dalam tataran analitis filsafat, praktikal misi dan konstruski reformatoris teologi Injili dengan menjunjung tinggi format keutamaan wahyu Alkitab sebagai sandaran. Dengan independensi yang terlibat intens dalam ‘menyusupi’ diskursus yang alpa dengan perspektif ortodoksi kekeritenan Injili dalam pengakuan wibawa Alkitab dan kedaulatan Allah, Jannus P. Sihombing selama kurang lebih 4 tahun belakangan memulai pelayanan yang bercakupan luas dalam ranah kebudayaan. Dimana dengan ‘murahnya’ menulis paper dan makalah diskusi, materi PA, buku, traktat. Disamping intens menguatkan partisipasi Injili dalam wilayah publik dengan memproduksi jurnal dengan cakupan dan kompetensi ilmiah. Sehingga tanpa mengurai panjang lebar partisipasi Komunitas Injili berupaya untuk tidak hanya melibatkan ‘dominansi individu’. Sehingga bukan hanya sebatas dukungan terhadap apa yang hanya dilakukan oleh individu, melainkan cakupan menjadi komunitas. Disamping tuntutan produktifitas individu juga menjadi tuntutan. Sehingga intensitasnya yang bukan hanya aktualisasi individu melainkan esensi komunitas itu sendiri.

(cat. Dalam hal ini segala dukungan akan disertakan report dari karya Jannus P. Sihombing dengan tetap untuk diketahui merupakan partisipasi Komunitas Injili)

Dikuatkan oleh Anugrah, Harus diakui Memang”

Begitu biasa dan lazimnya berbicara mengenai anugerah. Sewaktu mengingat kata anugerah begitu lazim untuk dihubungkan dengan kekristenan. “hidup adalah anugerah”, penggalan syair yang mengalun, bahwa menjelaskan tentang anugerah adalah “syukuri apa adanya, hidup adalah anugerah…” lirik kontemporer dari sebuah band. Dan kembali anugrah menjadi dikenali umum.

Hal yang diyakini, muatannya syarat dan identik dengan kekristenan, seakan dan benarkah pengertian anugerah tanpa mengenali sumber anugerah tersebut ? Sehingga terdengar secara umum, karena rating yang sempat naik dari lagu tersebut (“hidup adalah anugerah tersebut”) jutsru kita dapati distorsi ketika anugerah tidak terhubung dengan sumber anugerah tersebut.

Kekristenan yang sejatinya berawal dari anugerah merupakan nafas total dalam mengidentifikasi kebebasan kita. Mendiami keterbatasan dalam keberadaan kita, sebuah pengenalan bahwa dengan sadar kita mengakui bahwa kita membutukan penyertaan Tuhan senantiasa.

 

Kritisisme atas daya dan kemampuan anugrah.

Tetapi ini seakan penerimaan dan kepasrahan terhadap apa yang sedang berlangsung ? Apa yang berlangsung dengan keterpurukan keadaan. Apa yang terjadi ? Iman percaya yang jelasnya juga berasal dari anugerah memberi respon untuk memperbaiki. Dalam keberadaan yang terhilang dari pencipta, kita perlu untuk mengembalikan dengan pengertian atas anugerah. Seakan sebuah penyederhanaan, bahwa jikalau kita mengalami keterpurukan, hal yang konkrit adalah mengatasi keterpurukan tersebut. Mungkin terkesan sebagai penyederhanaan, tetapi sungguhkah bisa menyelesaikan keterpurukan ? Daya dan upaya yang dikerjakan anugerah dalam melihat kendali dan kemahakuasaan akan hal yang berdaulat yang terjadi atas kita. Yakni, daya dan kendali dari Allah sendiri.

Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai” (Mzm 5:13) Ungkapan tegas dari pemazmur dalam menilai oleh karena kendali dari Allah sendiri. Hal yang sepertinya terlewat adalah mengenai orang benar, sebagaimana hal yang diungkapkan pemazmur. Sumber anugerah adalah kebenaran itu sendiri yaitu Allah.

Siapakah kiranya orang benar yang dipagari oleh perisai ? penjelasan sebelumnya kita dapat “orang yang berlindung …mengasihi namaMU” (ay.12). Penjelasan yang memang terkait untuk mencari tahu sumber anugerah tersebut.


Limpahkan anugrah itu ?

I Petrus 1

1:4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

Ini jelas bukan sebuah lirik lagi. Dalam sebuah pengharapan, bahwa kita meyakini itu. Kita meyakini dari daya anugerah. Sunguh kita berharap akan pengakuan kita bahwa ditopang dan senantiasa berada dalam penyertaan Tuhan semata.

Lantas bisakah berbicara tentang anugerah, meyakini akan daya anugerah tersebut tanpa menaruh iman percaya kepada sumber anugerah tersebut ? Seakan-akan menjadi klaim keyakinan yang umum ketika mengetengahkan anugerah tanpa melihat “ Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita,” (II Tes 2:16). Sehingga, kembali kekhususan dari anugerah dalam pengenalan yang harus kita dapat.

Hal yang spesifik ketika Anugrah meneguhkan bahwa memang harus ada Allah dalam kasih karuniaNya yang mengasihi kita, seakan berbagi keyakinan dan tidak umum; keyakinan yang kita dapati bahwa keberdosaan dan keterpisahan kita mendapatkan penuntasan dari kita yang bergantung penuh kepada Allah, dikarenakan karakter dari kasih karunia-Nya tersebut. Jelasnya kekhususan dari Allah yang menyatakan diriNya, penyataan oleh karena anugrahNya. Kekhususan yang melampaui dari sekedar lirik lagu-tentunya dengan kesan yang sangat umum tersebut. Dikuatkan Allah dalam limpahan anugrahNya untuk mengenal kepada sumber anugerahNya.

 

Sumber newsletter Komunitas Injili edisi III/2010 © Jannus P. Sihombing

 

 

Investasi, Globalisasi, dan Pertanggung Jawaban Iman